LELAKI DAN REMBULAN


Matahari mulai redup, seorang lelaki menyusuri jalanan berbatu, matanya nyalang memandang ke kanan dan ke kiri jalan. Daun-daun kering berisik terinjak kakinya yang kotor oleh debu dan lumpur. Rambutnya kusam tak terawat tergerai di terpa angin sore. Sesekali kakinya menendang kerikil-kerikil jalan yang menghalangi langkahnya, seakan tak ingin benda-benda kecil itu mengusik kesendiriannya.

Beberapa pejalan kaki yang kebetulan berpapasan dengan lelaki itu tak menyapanya, yang sebelumnya berniat menyapanya diurungkannya ketika sampai di dekat lelaki itu. Hanya keheranan yang hinggap di benak setiap pejalan kaki yang berpapasan dengan seorang laki-laki paruh baya yang belum mereka kenal.

Waktu terus merambat petang, langkah lelaki itu telah sampai di sebuah pinggiran sungai di ujung desa yang dilaluinya sepanjang siang yang lewat, nama desa itupun tak sempat diingatnya lagi, tak penting baginya untuk mengingat nama desa itu. Derasnya air sungai yang meluncur di atas hamparan batu-batu kali yang ditumbuhi lumut lembut, selembut wajah seorang bocah 15 tahun yang pernah dikenalnya, hingga pada suatu siang, ketika bedug luhur berkumandang, ketika orang-orang sedang menikmati istirahat siang, di teras depan rumahnya, di kala syetan telah terlanjur menguasai birahinya…semua begitu cepat  dan ia tak mampu lagi menguasainya, lalu terjadilah peristiwa itu…

Sepotong ranting kering jatuh menimpa pipi lelaki itu. Dilemparkannya potongan ranting kering itu ke arah arus sungai dan hanyut. Hembusan-hembusan nafas panjang terdengar berat, seakan ingin membuang jauh-jauh beban yang teramat berat yang telah lama menggelayutinya, namun tetap tak mampu ia menghempaskannya walaupun hasratnya begitu kuat untuk melepaskan cengkeraman derita.

Lelaki itu meringis sambil memegangi perutnya, “lapar” keluhan lemah yang terlontar dari mulutnya. Lelaki itu bangkit kemudian mulai melangkah lagi, arahnya tetap tak terencana.

Ksatria Kecilku


Kau adalah “Ksatria Kecilku…”
Pada saatnya kaulah yang akan jadi tumpuhan harapanku
di saat kami tak lagi seperkasa sekarang…
di saat keringat kami telah kering kerontang…
di saat tubuh kami tinggal tulang belulang…
Jangan takut “Ksatria Kecilku”
Masa depan akan menjadi milikmu
“Doa kami mengiringimu…”

antara aku, kau dan mimpi…


Aku tak pernah punya rencana, jika  suatu ketika aku akan mengenalmu putri

Aku juga tak pernah punya angan-angan, jika suatu saat aku akan memasuki dunia mimpimu

Bahkan aku juga tak pernah berhayal, jika suatu waktu kita akan merajut mimpi bersama

Apalagi yang mesti aku cari, inspirasi itu ada padamu, putri

Aku tak hendak lari lagi…

Inilah sejarah kita;

Sejarah tentang dua insan yang coba merangkai serpihan-sepihan mimpi,

yang  berserakan di antara kepingan-kepingan kenyataan

Ya Tuhan, jika apa yang terjadi ini adalah sebuah kesalahan

Kiranya Engkau jualah yang Maha Rahman

Maka biarkan kami arungi samodera cintamu yang Agung

dan ijinkan aku tersenyum pada bidadariMu

dengan cawan rindu di pangkuannya

Aku ingin mereguknya

Maafkan aku yang bodoh ini, Tuhan…

Nggosiip…


Ngumpul teman sambil ngobrol ngalor ngidul memanglah mengasikkan.

Sepuluh, lima belas hingga setengah jam hampir tak terasa.

Awal mulanya materi obrolan hanya seputar aktifitas keseharian termasuk acara TV.

Pada bagian berikutnya mulai dech nyerempet-nyerempet ini dan itu.

Kemudian sampailah pada sesi nggosip kanan kiri, dan bagian inilah yang paling mengasikkan dalam sebuah obrolan…katanya sich…

 

Bagaimana tidak?!

Membicarakan tentang orang lain –biasanya tentang hal-hal yang negative– adalah suatu hal yang hampir disuka setiap orang, disadari maupun tidak. Iya to?! Padahal yang namanya nggosip –belum tentu benar tidaknya– bisa bikin orang ketagihan. Kalau sudah mulau nggosip, orang bisa lepas kontrol. Masalah-masalah yang mestinya dipeti-eskan, diobral ke mana-mana. Naifnya lagi, masih ditambah macam-macam biar lebih yahud dan menarik, katanya. Ya iya to, namanya juga GOSIP (digosok makin siiplah…)

Iya, jika yang digosipkan termasuk golongan orang-orang cuek macam Abu Nawas, tidak bakalan bikin masalah. Namun akan lain ceritanya bila yang digosipkan termasuk golongan orang yang suka uring-uringan. Bukankah ini sama artinya dengan membunyikan genderang perang. Wah, gawat dong!

Mestinya kalau kita mau instropeksi diri, harusnya kita sadar bahwa tidak ada seorangpun yang lepas dari aib dan kejelekan. Kali saja aib kita lebih gedhe dari orang yang kita gosipkan, tapi kita tidak sadari itu. Orang bijak bilang “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan” Nah tuch khan… Memang sich, butuh keberanian lebih dan sikap ksatria untuk mengakui aib sendiri. Aku yakin, kita ini maunya jadi orang jujur. Namun karena adanya berbagai kepentingan, akhirnya kejujuran itu harus tergadaikan. Sayang ya…

Biar bagaimanapun, yang namanya gosip tetap akan merugikan orang yang kita gosipkan. Khan dia tidak tahu, jadi tidak bisa kasih pledoi atau pembelaan dong.

Ayo, bagaimana kalau misalnya kamu tak gosipkan hoby kelayapan malam. Pasti muka kamu memerah seperti kepiting rebus. Lantas apa tindakanmu terhadapku?! Barangkali kamu akan langsung melabrakku atau menuntutku ke pengadilan dengan tuduhan mencemarkan nama baik kamu. Atau kamu cukup bikin gosip tandingan tentang aku yang tak kalah seram. Nah, bila ini sampai terjadi, apakah ini yang namanya “menyelesaikan masalah tanpa masalah?! Lalu siapa yang paling banyak dosanya?!

silaturrahmi yuk!


SILATURRAHMI YUK!

Silaturrahmi adalah istilah lain yang lebih keren dari berkunjung. Tentu saja yang dimaksudkan adalah berkunjung dengan maksud positif. Bukan sekedar berkunjung untuk bermain-main apalagi untuk maksud jahat. Dan ternyata silaturrahmi itu banyak sekali manfaatnya lo! Memupuk rasa cinta damai dan kasih sayang serta mempererat persaudaraan, menambah amal kebajikan serta menambah panjang usia. Dan yang pasti, dengan silaturrahmi pintu rezeki akan semakin terbuka.

Eh tunggu dulu! Sebelum kamu bersilaturrahmi atau berkunjung ke rumah bapak/ibu guru, kamu harus tahu rambu-rambunya bertamu.

Rambu-rambunya bertamu

ü  Bertamulah pada saat-saat pantas untuk bertamu.

Tentu dong, tak pantas bertamu ketika tuan rumah sedang waktunya istirahat. Apalagi bertamu kelewat malam. Bisa-bisa kamu kena gigitan kucing liar…

ü  Ketuk pintu, ucapkan salam, permisi, kulo nuwun dan semacamnya. Jangan main selonong boy-lah…

ü  Berjabat tangan bila memungkinkan.

Jika tuan rumah mengajak berjabat tangan, kamu juga harus antusias menyambutnya. Sebaliknya, jika tuan rumah tidak mengajak berjabat tangan, kamu juga main tarik saja…

ü  Masuk rumah sesuai aturan.

Tiap rumah ada aturannya sendiri. Misalnya jika sandal sepatu harus dilepas, kamu juga jangan enggan melepasnya, sebaliknya jika tuan rumah mempersilahkan memakainya, ya silahkan saja kamu pakai, enak to…up! Jangan lupa, topi mesthi dilepas. Ini aturan baku. Nggak ada kamusnya pakai topi di dalam ruangan, kecuali songkok atau kopyah. Kalau yang ini tetap saja pantas.

ü  Duduklah di tempat yang telah disediakan.

Jangan mentang-mentang di lain tempat ada hidangan enak atau ada cewek cakepnya, kamu main nimbrung saja. Kena damprat baru tahu rasa…

ü  Bicaralah sesuai dengan kebutuhan.

Jangan berlagak sok jago pidato sampai berbuih-buih namun juga jangan seperti patung batu yang hanya diam seribu bahasa. Sakit gigi kali ya…

ü  Perhitungkan kepentingan tuan rumah, artinya kamu mesti pintar membaca situasi dan kondisi. Barangkali saja tuan rumah akan ada kepentingan lain atau ada tamu penting lain. Segera pamit kalau dirasa sudah mencukupi, jangan bertamunya dipanjang-panjangin…

ü  Pamitlah dengan cara yang baik. Inilah saatnya menerapkan “datang tampak muka, pergi tampak punggung”

Nah, sekarang kamu sudah tahu rambu-rambunya silaturrahmi (bertamu). Selanjutnya  kamu juga harus ngerti etikanya menikmati hidangan. Siapa tahu sewaktu silaturrahmi ke rumah bapak/ibu guru, kamu disuguhi hidangan (pasti dong!) dan siapa tahu juga kamu ketiban rezeki diajak makan siang bareng, sekalian dikenalkan sama putri bapak/ibu guru yang imut…jangan ge-er dulu, putrinya masih balita kok…

Etika menikmati hidangan

ü  Baca do’a sebelum dan sesudah makan, setidaknya baca asma Allah. Pastinya nggak perlu dengan suara keras seperti sedang hafalan.

ü  Nikmati hidangan jika sudah dipersilahkan. Jangan asal main comot mumpung ada yang lezat-lezat. Tahan air liur sedikit kenapa sich?!

ü  Ambil hidangan yang terjangkau. Jika sudah kadung kebelet pingin menikmati hidangan yang kebetulan tidak terjangkau, mintalah tolong teman kamu yang dekat untuk mengambilkannya , syukur kalau tuan rumah pengertian dengan selera kamu.

ü  Ambil dan pegang makanan dengan tangan kanan. Yang ini paten, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jadi hati-hati bagi kamu yang terbiasa pakai tangan kiri. Kamu mesti berlatih, ok?!

ü  Nikmatilah hidangan dengan sikap yang baik dan wajar. Sambil duduk, mengunyah dengan pelan dan wajar, tidak dibuat-buat, tidak menimbulkan suara-suara aneh, dll. (Jawa: ojo gas-gasan rek!)

ü  Jangan sekali-kali mencela hidangan yang disuguhkan. Suka dinikmati, tidak suka jangan banyak komentar. Masih untung disuguhi, kalau tidak, bisa garing khan…

ü  Tidak meniup-niup makanan atau minuman yang masih panas. Tunggulah sampai siap dinikmati alias tunggu sampai dingin-dingin empuk…he-he.

ü  Boleh berkomentar terhadap hidangan tentang hal-hal yang positif, seperti “wah, minumannya benar-benar seger…” atau “enak, enak,enak…”

ü  Jangan sekali-kali membicarakan hal-hal yang jorok dan menjijikkan ketika sedang menikmati hidangan. Nggak lucu khan ketika sedang makan, kamu membicarakan bangkai kucing di sungai.

ü  Jangan lupa ucapkan terima kasih atas hidangan yang diberikan. Siapa tahu juga pulangnya kamu diberi bingkisan. Rasanya seperti mendapat durian runtuh. Iya to?!

Nah, kini tinggal praktiknya. Kesempatan baik, mumpung hari lebaranSusun planning. Ajak teman rame-rame “silaturrahmi” ke rumah bapak/ibu guru. Kapan lagi kesempatannya?! Siapa tahu kamu disangoni…SLAMET!!! 

jejak-jejak kenangan bersama gadis dalam bingkai


JEJAK-JEJAK KENANGAN BERSAMA GADIS DALAM BINGKAI*

Cerpen : Nanang M. Safa

 

Selamat malam Ry,

Lima belas tahun silam kamu masih kanak-kanak, polos dan manja. Tutur sapa, sikap dan tingkahmu sering menarik perhatianku. Aku menyukai kepolosan dan kemanjaanmu itu Ry, ketika kamu minta diajari mengerjakan pe-er atau ketika-ketika yang lain. Makanya aku suka menggodamu Ry. Seperti ketika itu, aku tunjukkan lukisan sket wajahmu di selembar kertas gambar, kamu sewot dan marah. Tapi aku tahu, kamu tidak benar-benar marah khan Ry. Buktinya, setelah aku hibur dengan cerita-ceritaku, kamu menyerangku dengan cubitan-cubitan kecilmu. Lalu kita tertawa bersama.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Kamu kini telah menjadi gadis remaja, cantik dan menarik. Sejak kanak-kanak dulupun, aku sudah yakin itu Ry, guratan-guratan kecantikan itu telah nampak. Tapi sayangnya Ry, aku tak bisa lagi menikmati keelokan wajahmu itu, seperti waktu-waktu silam. Kamu jadi jarang main ke tempatku. Ketika aku tanya mengapa, kamu bilang malu dengan teman-temanmu, juga pada orang-orang sekitar; mosok cewek main ke tempat cowok. Aku maklum Ry. Malah kamu katakan harusnya aku yang main ke rumahmu. Itulah Ry sebenarnya yang aku inginkan, aku ingin main ke rumah kamu, setiap hari, agar aku bisa memandangimu berlama-lama, menikmati senyum manismu. Tapi kamu juga tahu khan Ry, bagaimana posisiku di sini. Mengapa ya Ry alasan itu harus jadi penghalang. Ah biarlah, toch sekali waktu kita masih bisa bertemu juga khan Ry.

***

Hai Ry, masih ingatkah kamu ketika teman-teman remaja mengadakan acara makan bareng di rumahmu. Hampir seharian aku di sana. Maklum, aku diplot jadi seksi sibuk, dan kesempatan seperti itu memang sangat aku nantikan. Di sela-sela kesibukan itulah kita masih sempat bercengkerama, biarpun tidak seluang waktu biasanya. Dan sungguh aku tak lupa Ry, ternyata di saat-saat seperti itu kamu masih sempat memperhatikan aku, ketika kamu mengambil makan, kamu juga mengambilkannya untukku. Bukankah itu cukup jadi bukti bahwa kamu memang perhatian sama aku. Kamu tahu, ketika itu teman-teman lain sempat memperhatikan kita, curiga. Biar saja ya Ry, suka-suka kitalah.

***

Ry, bulan Juli tanggal pertama enam belas tahun silam adalah hari paling bersejarah bagi kita. Kenangan paling berkesan telah kita gores bersama. Sebuah kisah mirip cerita sinetron telah kita perankan. Pada mulanya aku tidak banyak berharap akan bisa menikmati perjalanan itu. Aku maklum, banyak teman-teman dalam satu rombongan wisata itu yang berusaha mendekatimu, berupaya merebut perhatianmu. Lagipula ketika itu aku tidak punya banyak kesempatan untuk berbebas ria seperti kebanyakan teman-teman lain. Aku kebagian tugas ngurusi dokumentasi. Yaaa, apa boleh buat Ry, aku harus jalankan tugas itu, jepret sana jepret sini, lari sana lari sini. Syukurlah Ry, tidak ada komplain dari para peserta wisata. Dan rupanya Tuhan memberiku imbalan, aku diberi kesempatan untuk bisa bersama kamu. Di Kyai Langgeng Ry, kebersamaan kita itu sempat terabadikan. Terima kasih juga untuk kue donatnya Ry.

Lalu rombongan melanjutkan perjalanan, cukup jauh juga jarak yang harus ditempuh. Curug Sewu; sebuah air terjun di tengah hutan wisata, itulah tujuannya. Lega, akhirnya sampai juga. Entah ya Ry siapa yang mengatur, kita bisa satu kelompok, ataukah sebenarnya kita sama-sama menginginkan kebersamaan itu?! Dari Curug Sewu ke Telaga Biru, harus ditempuh dengan jalan kaki. Jalannya berkelok, naik turun, penuh rumput liar. Di sinilah cerita roman itu terangkai. Entah siapa yang memulai, dengan santainya kita bergandengan tangan. Dari mana pula keberanian itu datang. Kita juga pasti lelah seperti mereka ketika akhirnya tahu bahwa yang disebut Telaga Biru itu tidak lebih hanyalah tempat berair mirip kubangan kerbau yang tak terawat. Tapi kamu juga setuju khan Ry bahwa perasaan lelah dan kecewa itu tak cukup mampu mengurangi keromantisan itu. Semuanya tetap indah khan Ry. Lalu puncak romantisme itu terjadi begitu saja. Di sinilah tiba-tiba saja kita tertinggal rombongan, tinggal kita berdua. –kok bisa ya Ry- dan mestinya kita panik atau paling tidak kita pacu langkah untuk menyusul ketertinggalan kita itu. Namun apa yang kita berdua lakukan Ry, kita malah santai dengan ketertinggalan itu, kita enjoy dengan keberduaan kita.

Dan masih ingatkah kamu ketika aku petikkan bunga rumput itu. Ketika bunga itu aku selipkan di rambutmu, kamu tersenyum padaku Ry. Lalu, aku lingkarkan lenganku di pinggangmu. Lalu, kita berjalan pelan menyusuri perjalanan yang tinggal sepotong itu. Dan ketika kita sampai kembali di tempat parkir, mereka ngeledek kita. Biar saja ya Ry, mereka menggonggong, kita tetap berlalu.

Dan seharusnya cerita itu masih berlanjut Ry, dalam bus yang membawa rombongan pulang, mesthinya kita bisa duduk berdampingan. Tapi Ry, ketika itu kepalaku rasanya tidak bisa diajak kompromi, pusing Ry, pusing. –inilah problem utamaku jika menempuh perjalanan jauh- Daripada mengganggu kenyamananmu, aku putuskan untuk berpura-pura tidur di sepanjang perjalanan pulang itu. Namun aku juga dengar Ry, ketika seorang teman cowok mengajakmu bercakap, sepertinya ingin menyelidik tentang kita. Pasti dia sempat menangkap keakraban kita yang tampak lain itu. Juga aku dengar Ry, ketika beberapa kali kamu memanggilku, entah untuk apa. Aku telah memutuskan untuk diam Ry, demi kebaikan kita berdua. Maafkan aku Ry, jika telah membuat kamu kecewa.

***

Selamat pagi, Ry,

Pagi itu kamu telah berada di tempat kosku, setelah perjalanan bersejarah seminggu lalu. Katanya kamu ingin belajar ngetik. Ah Ry, bukankah itu hanya alasan saja. Alasan apapun yang kamu kemukakan, aku tak akan mempertanyakannya Ry. Kalaupun kamu datang tanpa alasan, aku akan tetap menyambutmu dengan senyum.

Kebetulan Ry, semalam aku coba tulis sebuah puisi tentang kisah perjalanan kita antara Curug Sewu dan Telaga Biru. Lalu, ketika hanya satu dua saja kamu mengetuk tombol mesin tulis itu, itupun tidak terlalu penting lagi, sebab kamu memang tidak benar-benar ingin belajar mengetik khan Ry. Ah, pintar juga kamu bersandiwara Ry. Dan ketika aku tanya mengertikah kamu makna puisi itu, dengan malu-malu kamu bilang mengerti. Aku tatap matamu, kamu balik menatapku, kita saling berpandangan, tersenyum bersama, lalu diam. Puisi itu masih tersimpan rapi hingga sekarang;

Jalan-jalan berbatu turun naik dalam lingkaran rumput-rumput liar,

Menapaki langkah demi langkah bermandikan air kelelahan yang terus bercucuran di antara detak-detak jantung

Gemerisik daun-daun kering terinjak kaki-kaki penuh ambisi

Di antara semua itu;

Ada sepenggal kisah memori, ada tembang indah terlantun dari kisi-kisi hati, ada gemuruh dalam diri, ada kemanjaan dan kepasrahan, ada seribu puisi tersimpan rapi

Sepasang bunga rumput yang aku selipkan di antara senyuman dan kebisuan, ikut jadi saksi kisah perjalanan antara Curug Sewu dan Telaga Biru

***

Ry, aku masih ingat ketika kamu minta aku untuk mengambilkan photomu di rumah tukang photo amatiran itu. Photo itu hanya satu saja yang aku berikan ke kamu. Tapi kamu tidak pernah mempertanyakannya, apalagi memintanya. Itu artinya kamu mempercayakannya padaku untuk menyimpannya. Atau, kamu memang sengaja agar aku bisa memandangmu lama-lama. Kamu tahu Ry, photo itu aku cetak ulang dengan ukuran cukup besar. Kamu tahu khan Ry apa artinya itu?!

Ry, cukup lama juga kita tidak bisa saling bersama semenjak Juli indah itu. Paling-paling hanya sekedar tanya atau sapa. Aku tahu, kamu tidak menginginkan itu. Tapi keadaan Ry, keadaan yang mengaharuskannya. Kamu sibuk dengan sekolahmu sementara aku juga harus mengejar target studiku. Tapi percayalah Ry, kesempatan itu masih tetap ada.

***

Hari itu seorang teman pindah kost ke rumahmu. Tidak salah kiranya aku ikut mangayubagyo kepindahan temanku itu. Biarpun lagi-lagi itu hanya alasan saja, buktinya setelah berbasa-basi sebentar, aku lebih tertarik untuk memenuhi ajakanmu, bermain catur di ruang sebelah. Aku cuek saja dengan ekspresi curiga temanku itu. Sudah lama aku menunggu kesempatan seperti itu. Ingin aku memandangmu berlama-lama seperti waktu kecil dulu. Rindu aku dengan canda tawamu, kangen aku dengan cubitan-cubitan kecilmu, juga kemanjaanmu. Dan hari itu aku bisa kembali bernostalgia.

”Skak” suara temanku mengagetkan kita.

Permainan harus berakhir Ry. Hari sudah siang, aku harus segera kembali. Hari ini kita sama-sama menang atau sama-sama kalah. Sama saja khan Ry, dan kiranya jejak-jejak kenangan ini akan berakhir di sini, atau akan berlanjut. Biar waktu yang akan menjawabnya.@

*Cerpen ini masuk juara harapan I pada lomba menulis cerpen remaja yang diselenggarakan oleh QLC (Quantum Litera Center) Trenggalek Tahun 2010.

 

Yok Opo Sich Belajar Efektif Itu?


Doc1

Belajar ternyata juga ada tipsnya lo! Penasaran, baca yang berikut.

 

ü  Baca kembali apa yang diajarkan bapak/ibu guru hari ini. Buat ringkasan materi menurut bahasamu sendiri. Ini akan memudahkan kamu untuk memahami kembali materi pelajaranmu hari ini. Baca juga materi yang akan diajarkan besok pagi. Buat kerangka dan catatan singkat. Jadi ketika Bapak/ibu guru membahasnya besok pagi, kamu sudah punya gambaran tentang garis besar materi yang diajarkan. Jadi tidak blank dong.

ü  Berusahalah untuk berkonsentrasi penuh ketika Bapak/Ibu guru membahas materi pelajaran. Sedapat mungkin hindari memikirkan hal-hal yang dapat merusak konsentrasi kamu. Apaya ini akan memudahkan kamu memanggil kembali pelajaran itu ketika kamu berniat menghafalnya.Doc2

ü  Catatan mesti rapi dan tersusun pada buku yang berbeda pada setiap mata pelajaran. Tulis bab per bab, bagian per bagian untuk memudahkan mempelajarinya. Jangan mencampur adukkan catatan materi yang berbeda pada satu buku sebab tindakan demikian otak kita ikut morat-marit.

ü  Belajar bukan berarti harus membaca atau menulis. Mengajari teman, mendengarkan teman yang sedang membaca dan berdsikusi juga termasuk bagian dari cara belajar yang efektif. Dengan berdiskusi dan mengajari teman maka pemahaman kita terhadap materi pelajaran akan semakin bagus dan bertambah.

ü  Ada kalanya gambar ilustrasi dapat membantu pemahaman kita terhadap materi pelajaran tertentu. Jika memang demikian maka buatlah gambar ilustrasi pada materi bersangkutan. Atau bisa juga berbentuk pohon materi, denah, table, bagan dan sejenisnya.

ü  Bagi tiap orang waktu belajar tidak bisa dipaksakan. Pilih waktu belajar yang menurutmu paling pas. Belajar tidak harus malam hari, namun bisa pagi atau siang hari.

ü  Belajar sambil mendengarkan music asyik juga lo! Pilih music yang tenang tapi menggugah seperti music klasik atau sekekar iringan instrument ala Kenny G. Hindari music yang menghentak-hentak semacam rock atau dangdut, sebab nanti malah gak jadi belajar tapi malah berjingkrak-jingkrak. Jadi gak sehaluan dengan niat pertama untuk belajar khan.

Belajar ada rumusnya juga lo! 1 x 6 lebih baik dari pada 6 x 1. Kamu tahu artinya rumus ini? Ternyata belajar 1 jam tiap hari selama 6 hari berturut-turut jauh lebih baik dan efektif dari pada belajar 6 jam sehari tanpa berhenti. Nah, makanya jangan biasakan system SKS (Sistem Kebut Semalam). Baru mau belajar mati-matian jika esok hari akan ada ulangan. Itu namanya “bunuh diri!”

Previous Older Entries