Siapa yang Bakal Tereliminasi?!


Ketika mendengar kata “eliminasi” tentu yang kamu bayangkan adalah AFI atau Indonesia Idol yang pertengahan tahun lalu pernah ngetop. Jadi nggak perlulah dijelaskan lagi secara detail tentang arti kata eliliminasi itu. yang pasti jika seseorang harus ter”eliminasi” itu berarti dia harus keluar dari arena kompetisi alias harus tersingkir. Nah LO!

Bagaimana perasaan si Nia ketika harus tereliminasi dari AFI-2. Sidah pasti dia sedih. Namun dengan kebesaran jiwanya, Nia tetap positif thinking bahwa dengan tereliminasi itu dia bisa instropeksi diri sehingga kegagalan itu bisa dijadikan cambuk dan pendorong semangat untuk mengasah lagi bakat dan kemampuannya. Toch kesempatan untuk meraih cita-cita bagi dia masih teramat panjang.

Tentu lain yang dirasakan Tia. Dengan terpilihnya Tia sebagai Bintang AFI-2, sudah pasti ada rasa haru, bangga, bahagia, dan….beragam perasaan lain yang nggak bisa kebayangkan, hingga Tia-pun sampai kehabisan kata-kata untuk dapat mengungkapkannya.

Nah…. setelah beberapa hari lalu kamu (segenap siswa SLTA/SLTP Kelas XII/IX) menjalani UN/US, tibalah saatnya pada detik-detik akhir menjelang pengumuman hasil kerja keras kamu itu. Tentu saja saat-saat seperti ini merupakan saat-saat paling menegangkan, saat-saat paling mendebarkan, saat-saat paling menggelisahkan. Bahkan barangkali saja di antara kamu sejak beberapa hari inipun udah nggak enak makan, nggak nyenyak tidur, gara-gara menantikan saat paling menentukan itu.

Ya….biar bagaimanapun hidup ini memang seringkali harus dihadapkan pada dua kenyataan yang bertolak belakang; ada senang ada susah, ada positif ada negatif, dan seterusnya. Itulah yang disebut harmoni hidup. Sebab hanya dengan adanya perbedaan itulah, hidup ini bisa bermakna. Orang bisa merasakan bahagia karena adanya duka, orang bisa merasakan cinta karena adanya benci, dan seterusnya.

Namun apapun, kamu mesthi yakin bahwa dibalik semua itu ada hikmah terpendam yang kadang memang baru bisa kamu mengerti seiring berjalannya waktu. Yakinlah itu.

Bagi kamu yang LULUS, memang sewajarnyalah kamu bangga dan gembira. Namun jangan lantas kegembiraan itu membuat kamu lupa diri. Lalu kamu ungkapkan kegembiraan kamu itu secara berlebihan, misalnya dengan melakukan tindakan yang kontra-produktif seperti masin corat-coret baju seragam dengan pilox, atau dengan main kebut-kebutan di jalan raya rame-rame. Tindakan semacam ini justru nggak populer dan kekanak-kanakan, dan yang pasti cara seperti ini bukan ungkapan syukur yang mencerminkan jiwa seorang terdidik klhan?!

Bagi kamu yang “kebetulan” sedang bernasib kurang beruntung (nggak lulus), ya nggak perlulah menghukum diri sendiri. Lalu merasa diri kamu nggak ada artinya sama sekali dan menganggap dunia sudah qiamat. Terimalah kenyataan. Kenapa mesthi berputus asa?! Bukankah masih ada satu kesempatan?! Pergunakanlah kesempatan itu agar tidak mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Ingat!

Di dunia ini, nggak ada yang hakiki, semuanya serba semu. Senang suah, keberuntungan atau musibah, tipis….sekali batasnya. Sekarang senang, siapa tahu esok susah. Sekarang susah, sapa tahu pula esok bahagia. Bukankah rumputpun nggak tahu pasti apakah sore nanti daunnya masih bisa bergoyang?! (demonTB,03/05/009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: