jejak-jejak kenangan bersama gadis dalam bingkai


JEJAK-JEJAK KENANGAN BERSAMA GADIS DALAM BINGKAI*

Cerpen : Nanang M. Safa

 

Selamat malam Ry,

Lima belas tahun silam kamu masih kanak-kanak, polos dan manja. Tutur sapa, sikap dan tingkahmu sering menarik perhatianku. Aku menyukai kepolosan dan kemanjaanmu itu Ry, ketika kamu minta diajari mengerjakan pe-er atau ketika-ketika yang lain. Makanya aku suka menggodamu Ry. Seperti ketika itu, aku tunjukkan lukisan sket wajahmu di selembar kertas gambar, kamu sewot dan marah. Tapi aku tahu, kamu tidak benar-benar marah khan Ry. Buktinya, setelah aku hibur dengan cerita-ceritaku, kamu menyerangku dengan cubitan-cubitan kecilmu. Lalu kita tertawa bersama.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Kamu kini telah menjadi gadis remaja, cantik dan menarik. Sejak kanak-kanak dulupun, aku sudah yakin itu Ry, guratan-guratan kecantikan itu telah nampak. Tapi sayangnya Ry, aku tak bisa lagi menikmati keelokan wajahmu itu, seperti waktu-waktu silam. Kamu jadi jarang main ke tempatku. Ketika aku tanya mengapa, kamu bilang malu dengan teman-temanmu, juga pada orang-orang sekitar; mosok cewek main ke tempat cowok. Aku maklum Ry. Malah kamu katakan harusnya aku yang main ke rumahmu. Itulah Ry sebenarnya yang aku inginkan, aku ingin main ke rumah kamu, setiap hari, agar aku bisa memandangimu berlama-lama, menikmati senyum manismu. Tapi kamu juga tahu khan Ry, bagaimana posisiku di sini. Mengapa ya Ry alasan itu harus jadi penghalang. Ah biarlah, toch sekali waktu kita masih bisa bertemu juga khan Ry.

***

Hai Ry, masih ingatkah kamu ketika teman-teman remaja mengadakan acara makan bareng di rumahmu. Hampir seharian aku di sana. Maklum, aku diplot jadi seksi sibuk, dan kesempatan seperti itu memang sangat aku nantikan. Di sela-sela kesibukan itulah kita masih sempat bercengkerama, biarpun tidak seluang waktu biasanya. Dan sungguh aku tak lupa Ry, ternyata di saat-saat seperti itu kamu masih sempat memperhatikan aku, ketika kamu mengambil makan, kamu juga mengambilkannya untukku. Bukankah itu cukup jadi bukti bahwa kamu memang perhatian sama aku. Kamu tahu, ketika itu teman-teman lain sempat memperhatikan kita, curiga. Biar saja ya Ry, suka-suka kitalah.

***

Ry, bulan Juli tanggal pertama enam belas tahun silam adalah hari paling bersejarah bagi kita. Kenangan paling berkesan telah kita gores bersama. Sebuah kisah mirip cerita sinetron telah kita perankan. Pada mulanya aku tidak banyak berharap akan bisa menikmati perjalanan itu. Aku maklum, banyak teman-teman dalam satu rombongan wisata itu yang berusaha mendekatimu, berupaya merebut perhatianmu. Lagipula ketika itu aku tidak punya banyak kesempatan untuk berbebas ria seperti kebanyakan teman-teman lain. Aku kebagian tugas ngurusi dokumentasi. Yaaa, apa boleh buat Ry, aku harus jalankan tugas itu, jepret sana jepret sini, lari sana lari sini. Syukurlah Ry, tidak ada komplain dari para peserta wisata. Dan rupanya Tuhan memberiku imbalan, aku diberi kesempatan untuk bisa bersama kamu. Di Kyai Langgeng Ry, kebersamaan kita itu sempat terabadikan. Terima kasih juga untuk kue donatnya Ry.

Lalu rombongan melanjutkan perjalanan, cukup jauh juga jarak yang harus ditempuh. Curug Sewu; sebuah air terjun di tengah hutan wisata, itulah tujuannya. Lega, akhirnya sampai juga. Entah ya Ry siapa yang mengatur, kita bisa satu kelompok, ataukah sebenarnya kita sama-sama menginginkan kebersamaan itu?! Dari Curug Sewu ke Telaga Biru, harus ditempuh dengan jalan kaki. Jalannya berkelok, naik turun, penuh rumput liar. Di sinilah cerita roman itu terangkai. Entah siapa yang memulai, dengan santainya kita bergandengan tangan. Dari mana pula keberanian itu datang. Kita juga pasti lelah seperti mereka ketika akhirnya tahu bahwa yang disebut Telaga Biru itu tidak lebih hanyalah tempat berair mirip kubangan kerbau yang tak terawat. Tapi kamu juga setuju khan Ry bahwa perasaan lelah dan kecewa itu tak cukup mampu mengurangi keromantisan itu. Semuanya tetap indah khan Ry. Lalu puncak romantisme itu terjadi begitu saja. Di sinilah tiba-tiba saja kita tertinggal rombongan, tinggal kita berdua. –kok bisa ya Ry- dan mestinya kita panik atau paling tidak kita pacu langkah untuk menyusul ketertinggalan kita itu. Namun apa yang kita berdua lakukan Ry, kita malah santai dengan ketertinggalan itu, kita enjoy dengan keberduaan kita.

Dan masih ingatkah kamu ketika aku petikkan bunga rumput itu. Ketika bunga itu aku selipkan di rambutmu, kamu tersenyum padaku Ry. Lalu, aku lingkarkan lenganku di pinggangmu. Lalu, kita berjalan pelan menyusuri perjalanan yang tinggal sepotong itu. Dan ketika kita sampai kembali di tempat parkir, mereka ngeledek kita. Biar saja ya Ry, mereka menggonggong, kita tetap berlalu.

Dan seharusnya cerita itu masih berlanjut Ry, dalam bus yang membawa rombongan pulang, mesthinya kita bisa duduk berdampingan. Tapi Ry, ketika itu kepalaku rasanya tidak bisa diajak kompromi, pusing Ry, pusing. –inilah problem utamaku jika menempuh perjalanan jauh- Daripada mengganggu kenyamananmu, aku putuskan untuk berpura-pura tidur di sepanjang perjalanan pulang itu. Namun aku juga dengar Ry, ketika seorang teman cowok mengajakmu bercakap, sepertinya ingin menyelidik tentang kita. Pasti dia sempat menangkap keakraban kita yang tampak lain itu. Juga aku dengar Ry, ketika beberapa kali kamu memanggilku, entah untuk apa. Aku telah memutuskan untuk diam Ry, demi kebaikan kita berdua. Maafkan aku Ry, jika telah membuat kamu kecewa.

***

Selamat pagi, Ry,

Pagi itu kamu telah berada di tempat kosku, setelah perjalanan bersejarah seminggu lalu. Katanya kamu ingin belajar ngetik. Ah Ry, bukankah itu hanya alasan saja. Alasan apapun yang kamu kemukakan, aku tak akan mempertanyakannya Ry. Kalaupun kamu datang tanpa alasan, aku akan tetap menyambutmu dengan senyum.

Kebetulan Ry, semalam aku coba tulis sebuah puisi tentang kisah perjalanan kita antara Curug Sewu dan Telaga Biru. Lalu, ketika hanya satu dua saja kamu mengetuk tombol mesin tulis itu, itupun tidak terlalu penting lagi, sebab kamu memang tidak benar-benar ingin belajar mengetik khan Ry. Ah, pintar juga kamu bersandiwara Ry. Dan ketika aku tanya mengertikah kamu makna puisi itu, dengan malu-malu kamu bilang mengerti. Aku tatap matamu, kamu balik menatapku, kita saling berpandangan, tersenyum bersama, lalu diam. Puisi itu masih tersimpan rapi hingga sekarang;

Jalan-jalan berbatu turun naik dalam lingkaran rumput-rumput liar,

Menapaki langkah demi langkah bermandikan air kelelahan yang terus bercucuran di antara detak-detak jantung

Gemerisik daun-daun kering terinjak kaki-kaki penuh ambisi

Di antara semua itu;

Ada sepenggal kisah memori, ada tembang indah terlantun dari kisi-kisi hati, ada gemuruh dalam diri, ada kemanjaan dan kepasrahan, ada seribu puisi tersimpan rapi

Sepasang bunga rumput yang aku selipkan di antara senyuman dan kebisuan, ikut jadi saksi kisah perjalanan antara Curug Sewu dan Telaga Biru

***

Ry, aku masih ingat ketika kamu minta aku untuk mengambilkan photomu di rumah tukang photo amatiran itu. Photo itu hanya satu saja yang aku berikan ke kamu. Tapi kamu tidak pernah mempertanyakannya, apalagi memintanya. Itu artinya kamu mempercayakannya padaku untuk menyimpannya. Atau, kamu memang sengaja agar aku bisa memandangmu lama-lama. Kamu tahu Ry, photo itu aku cetak ulang dengan ukuran cukup besar. Kamu tahu khan Ry apa artinya itu?!

Ry, cukup lama juga kita tidak bisa saling bersama semenjak Juli indah itu. Paling-paling hanya sekedar tanya atau sapa. Aku tahu, kamu tidak menginginkan itu. Tapi keadaan Ry, keadaan yang mengaharuskannya. Kamu sibuk dengan sekolahmu sementara aku juga harus mengejar target studiku. Tapi percayalah Ry, kesempatan itu masih tetap ada.

***

Hari itu seorang teman pindah kost ke rumahmu. Tidak salah kiranya aku ikut mangayubagyo kepindahan temanku itu. Biarpun lagi-lagi itu hanya alasan saja, buktinya setelah berbasa-basi sebentar, aku lebih tertarik untuk memenuhi ajakanmu, bermain catur di ruang sebelah. Aku cuek saja dengan ekspresi curiga temanku itu. Sudah lama aku menunggu kesempatan seperti itu. Ingin aku memandangmu berlama-lama seperti waktu kecil dulu. Rindu aku dengan canda tawamu, kangen aku dengan cubitan-cubitan kecilmu, juga kemanjaanmu. Dan hari itu aku bisa kembali bernostalgia.

”Skak” suara temanku mengagetkan kita.

Permainan harus berakhir Ry. Hari sudah siang, aku harus segera kembali. Hari ini kita sama-sama menang atau sama-sama kalah. Sama saja khan Ry, dan kiranya jejak-jejak kenangan ini akan berakhir di sini, atau akan berlanjut. Biar waktu yang akan menjawabnya.@

*Cerpen ini masuk juara harapan I pada lomba menulis cerpen remaja yang diselenggarakan oleh QLC (Quantum Litera Center) Trenggalek Tahun 2010.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: