Nggosiip…


Ngumpul teman sambil ngobrol ngalor ngidul memanglah mengasikkan.

Sepuluh, lima belas hingga setengah jam hampir tak terasa.

Awal mulanya materi obrolan hanya seputar aktifitas keseharian termasuk acara TV.

Pada bagian berikutnya mulai dech nyerempet-nyerempet ini dan itu.

Kemudian sampailah pada sesi nggosip kanan kiri, dan bagian inilah yang paling mengasikkan dalam sebuah obrolan…katanya sich…

 

Bagaimana tidak?!

Membicarakan tentang orang lain –biasanya tentang hal-hal yang negative– adalah suatu hal yang hampir disuka setiap orang, disadari maupun tidak. Iya to?! Padahal yang namanya nggosip –belum tentu benar tidaknya– bisa bikin orang ketagihan. Kalau sudah mulau nggosip, orang bisa lepas kontrol. Masalah-masalah yang mestinya dipeti-eskan, diobral ke mana-mana. Naifnya lagi, masih ditambah macam-macam biar lebih yahud dan menarik, katanya. Ya iya to, namanya juga GOSIP (digosok makin siiplah…)

Iya, jika yang digosipkan termasuk golongan orang-orang cuek macam Abu Nawas, tidak bakalan bikin masalah. Namun akan lain ceritanya bila yang digosipkan termasuk golongan orang yang suka uring-uringan. Bukankah ini sama artinya dengan membunyikan genderang perang. Wah, gawat dong!

Mestinya kalau kita mau instropeksi diri, harusnya kita sadar bahwa tidak ada seorangpun yang lepas dari aib dan kejelekan. Kali saja aib kita lebih gedhe dari orang yang kita gosipkan, tapi kita tidak sadari itu. Orang bijak bilang “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan” Nah tuch khan… Memang sich, butuh keberanian lebih dan sikap ksatria untuk mengakui aib sendiri. Aku yakin, kita ini maunya jadi orang jujur. Namun karena adanya berbagai kepentingan, akhirnya kejujuran itu harus tergadaikan. Sayang ya…

Biar bagaimanapun, yang namanya gosip tetap akan merugikan orang yang kita gosipkan. Khan dia tidak tahu, jadi tidak bisa kasih pledoi atau pembelaan dong.

Ayo, bagaimana kalau misalnya kamu tak gosipkan hoby kelayapan malam. Pasti muka kamu memerah seperti kepiting rebus. Lantas apa tindakanmu terhadapku?! Barangkali kamu akan langsung melabrakku atau menuntutku ke pengadilan dengan tuduhan mencemarkan nama baik kamu. Atau kamu cukup bikin gosip tandingan tentang aku yang tak kalah seram. Nah, bila ini sampai terjadi, apakah ini yang namanya “menyelesaikan masalah tanpa masalah?! Lalu siapa yang paling banyak dosanya?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: